teman-teman pernah dengar lagu ini?
waktu kecil aku mendengarkan lagu ini sungguh-sungguh. aku begitu menghayatinya sampai bisa membayangkannya. begini gambarannya:
suatu saat nanti aku akan bekerja, menikah, punya anak dan anakku kelas 6 SD mau UNAS. lalu tiba-tiba pekerjaan hilang atau usaha bangkrut. melamar pekerjaan ke mana-mana tapi ditolak. mau usaha lagi tapi gak ada modal. hari ini gak bisa makan. anakku menangis kelaparan minta-minta makan. istri mengeluh menyuruh aku usaha ke mana-mana tapi tak berhasil. apa yang harus aku lakukan?
aku harus memikirkan kondisi itu sebelum benar-benar terjadi. aku harus mencegah hal itu terjadi karena aku sebagai suami dan ayah bertanggung jawab untuk memberi nafkah pada mereka. aku berkewajiban memberi mereka pakaian, makan dan tempat tinggal. belum lagi biaya sekolah anak, listrik, bensin, LPG di mana kebutuhan-kebutuhan hidup makin meningkat, bahkan sudah terasa sekarang. ini nyata. it’s real!
karena itu aku harus berusaha. aku tidak ingin istri dan anakku kelaparan. daripada mereka yang menderita lebih baik aku saja. daripada nanti mereka susah lebih baik aku belum menemui mereka dulu. usaha itu dimulai dari sekarang. aku harus sukses.
rencanaku aku harus sukses dulu. aku harus punya penghasilan minimal Rp 1 Juta dulu baru aku berani menikah sebab aku harus memberi makan istriku. nanti dengan anakku, maka penghasilanku harus naik lagi. juga harus punya rumah dan kendaraan untuk mereka. mebel dan preabotan tentu harus punya juga dong!
sayangnya aku belum mencapai itu jadi aku belum berani. aku harus menunggu penghasilanku naik dulu baru berani. kalau belum aku belum bisa maju. kasihan mereka nanti.
tapi teman-temanku yang sejamaah sering mengatakan tak usah khawatirkan itu. rizki sudah diatur oleh Alloh. yang penting kita berusaha saja. jangan khawatir. nanti Alloh akan membukakan rizki kita dari arah yang tak disangka-sangka. serahkan saja semua pada Alloh. aku membantah mereka tapi mereka pandai bersilat lidah. kalu aku tolak mereka memvonis aku orang sombong. menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
aku turuti mereka. aku tidak melakukan apa-apa. aku bertemu mereka di kesempatan lain. mereka tanya apa yang aku lakukan. aku bilang gak ada. mereka seperti marah, bilang aku harus berusaha. rizki tidak akan datang begitu saja tapi harus diusahakan.
aku jadi marah, benci dan kesal sama mereka. mereka selalu begitu. tidak konsisten. aku bilang ikhtiar mereka bilang rizki. aku bilang rizki mereka bilang ikhtiar. seakan-akan apapun yang kulakukan selalu salah di mata mereka. aku pilih amal sedikit tapi istiqomah tapi mereka bilang perbanyak amal. aku berusaha teliti dalam taharah mereka bilang mempersulit diri. aku berpendapat mempersulit diri mereka bilang teliti. aku tidak mempercaya mereka lagi.
hal yang sama terjadi dalam masalah rizki dan ikhtiar. mereka dan Islam mengatakan: harta bukan segalanya, kaya tidak selalu bahagia. aku ikuti mereka. aku buang hartaku dan aku tidak mau kaya. tapi di lain waktu mereka menyuruh ikhtiar dan bekerja keras. gimana sih mereka itu?
setelah melewati banyak waktu aku akhirnya berpikir:
pemikiran yang mengejar materi sebagai tujuan hidup adalah pemikiran barat, materialistis dan hedonis. pemikiran itu salah dan tidak benar. pemikiran yang membuang materi dan kehidupan adalah pemikiran india yang spiritualistis dan asketis. buddha juga begitu. pemikiran itu juga salah. Islam tidak seperti itu.
pemikiran Islam adalah: Alloh telah menciptakan begitu banyak kekayaan alam dan materi sebagai nikmat bagi manusia untuk disyukuri dan digunakan sebaik-baiknya. jadi seharusnya digunakan, bukan dibuang, tapi juga bukan dipuja sebagai tujuan hidup tapi sebagai sarana hidup dan ibadah. Alloh menciptakan manusia sebagai materi. manusia memiliki kebutuhan hidup dan naluri yang melahirkan keinginan hati. kebutuhan hidup dipenuhi dengan materi. oleh karena itu manusia boleh menggunakan materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan wajib. untuk keinginan hati maka kalau keinginan itu syar’i dan caranya syar’i maka boleh, sedangkan kalau keinginan dan caranya itu tidak sesuai hukum syara’ maka tidak boleh. yang lebih tinggi lagi adalah tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Alloh. jadi yang aku yakini:
manusia adalah materi. materi adalah pilar kehidupan. manusia membutuhkan materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan beribadah kepada Alloh. manusia membutuhkan materi untuk makan, tempat tinggal, pakaian, beribadah dan aktivitas yang lain. oleh karena itu manusia harus mencari materi. Alloh juga memerintahkan manusia untuk bekerja. tapi materi bukan tujuan, sebab tujuan hakiki manusia adalah akhirat. tujuan setiap muslim adalah jannah dan ridlo Alloh. jalan ke sana adalah dengan beriman dan bertaqwa kepada Alloh. selalu beribadah kepada-Nya. materi adalah sarana. tanpa sarana ibadah tak bisa terlaksana dengan sempurna.
jadi selayaknya materi tidak dibuang tapi juga tidak dikejar membabi buta dan fokus ke sana hingga melupakan segala yang lainnya. kita mengejar materi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan agama, bagi diri sendiri dan keluarga kita, termasuk anak dan istri nanti. ini yang aku yakini.
aku membuat standar materiku. aku harus kuliah di UM jurusan matematika tahun 2008 lalu lulus 2012, terus ikut CPNS lalu jadi guru dengan penghasilan di atas Rp 1 Juta. lalu ikut BDM UM. berteman dengan banyak orang, main ke sana ke mari, merasakan kehidupan anak kos, tahu banyak hal dan banyak tempat seperti teman-teman SMA-ku. kami dari SMAN 1 Blitar banyak yang ke UM. ada juga yang ke UB, UI, ITS dan lain-lain. dengan begitu aku bisa menjalani peranku sebagai alumni SMAN 1 Blitar yang sukses setara dengan teman-teman. punya banyak pengetahuan, pengalaman, keterampilan, materi, pergaulan, kendaraan, pekerjaan, penghasilan.
semua itu tak terkabul. aku kehilangan semuanya. aku jadi benar-benar memalukan. aku tak bisa lagi muncul di hadapan teman-temanku dan semua orang. aku ingin pergi saja dari dunia ini tapi dilarang oleh hukum syara’.
kemudian bagaimana jawaban pertanyaan di atas?
kalau aku menghadapi masalah keluarga seperti di atas apa yang harus aku lakukan? orang yang soleh akan berdoa dan terus berusaha. Alloh pasti akan membantunya karena hamba-Nya itu orang soleh.
aku bukan orang soleh. sebanyak apapun amal yang kulakukan, bagaimana pun aku mengejar kesolehan itu yang aku rasakan aku tidak akan bisa meraihnya karena orang soleh itu tidak bisa diklaim. kita tidak boleh mengklaim diri kita orang soleh. Islam sudah menetapkan itu. jadi aku bukan orang soleh. I am bad guy.
ada lagi yang bikin aku tidak bisa menjadi orang soleh. perasaanku belum menyatu dengan Islam. oke aku yakin Islam itu benar, Alloh itu ada dan seluruh ajarannya itu benar. amal-amal itu bisa saja aku lakukan, tapi perasaanku belum bisa selaras dengan Islam karena masalah qadla dan qodar, baik dan buruk, kehendak Alloh dan manusia, keinginan dan takdir semacam itulah. impianku musnah. karena itu aku sulit percaya kalau ini yang terbaik. maaf, ya dengan postingan ini, aku jadi ketahuan isi hatiku tidak sebaik postingan dalam kategori agama Islam. di sana aku memberikan taushiyah Islam tapi di sini aku ketahuan belum sejalan dengan islam itu sendiri. karena itu aku bukan orang Islam yang soleh. masih low.
karena itu aku tak bisa berdoa kepada Alloh. habis dah jalanku. sekarang yang bisa kulakukan hanya menjalankan rencana awalku. tetap mengaji, beramal dan beribadah. mencari jawaban “bisakah aku mempercayai Alloh?”
terus mencari jawaban, mencari pemahaman, keyakinan dan kekuatan hati di samping ibadah dan amal. semoga nanti jawabannya ketemu sebelum jodoh datang dan memasuki tahapan kehidupan sebelumnya.
yang jelas aku masih belum bisa menikah sebelum materi, ilmu agama dan pemahaman Islamku cukup, sebelum aku menemukan keyakinan hati yang mantap dalam Islam. karena itu aku harus mencari semuanya. materi juga yang lain.
semoga nanti berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar